Wednesday, July 24, 2013

PENGHALANG IMAN

"Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia" - Lukas 24:16. Dari konteks firman Allah ini kita mengetahui bahwa peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus dari antara orang mati merupakan berita yang menggemparkan penduduk Yerusalem.

Tidak terkecuali para murid Yesus yang masih diliputi oleh ketakutan dan juga menyaksikan semua peristiwa kesengsaraan Yesus. Dialog antara dua orang murid Yesus dalam perjalanan ke Emaus memperlihatkan kepada kita bagaimana suasana yang sebenarnya yang terjadi di Yerusalem.

Dua murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus menjadikan peristiwa kebangkitan Yesus sebagai bahan dialog dan diskusi mereka berdua. Pada saat itulah Yesus tiba-tiba mendatangi mereka dan berjalan bersama mereka serta menanyakan apa yang sedang mereka perbincangkan.

Namun, yang menarik ialah walau Yesus ada di depan mata mereka, berbicara langsung dengan mereka, tetapi mereka tidak mengenal Yesus. Menurut catatan Lukas, diinformasikan kepada kita bahwa ada yang menghalangi mata iman mereka, sehingga menyebabkan mata jasmani mereka tidak dapat mengenal Yesus.

Pertanyaan penting ialah: "Apa yang menghalangi mata iman mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Yesus?

1. Karena yang terjadi tidak seperti yang diharapkan.
"Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi" - Lukas 24:21.

Kita melihat bahwa dua orang murid ini punya harapan yang kuat kepada Yesus untuk menjadi PEMIMPIN dan PEMBEBAS mereka dari perbudakan bangsa Romawi. Mereka tidak mengenal Yesus karena dihalangi oleh sebuah paradigma yang salah tentang Yesus dan karya-Nya. Mereka mengharapkan Yesus sebagai PEMIMPIN dan PEMBEBAS mereka secara politik. Namun, bukan itu yang terjadi, justru Yesus mati di kayu salib, sehingga membuyarkan harapan mereka.

Kita juga acap kali seperti para murid. Iman kita terhambat dan kita tidak bisa melihat dan mengalami kuasa Allah dalam hidup kita, karena sering kita terjebak pada kenyataan yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Iman kita menjadi lemah. Iman kita menjadi buta, sehingga Yesus yang ada bersama kita pun tidak dapat kita lihat.

2. Karena tidak mengenal Yesus seperti yang dikatakan dalam Alkitab.
"Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi" - Lukas 24:19, 25-27.

3. Karena kebodohan dan kelambanan serta ketidakpercayaan kepada nubuatan para nabi yang ada dalam Alkitab.
"Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!" - Lukas 24:25.
 

7 KEPENTINGAN FIRMAN TUHAN

Alkitab adalah firman Allah yang tanpa salah. Alkitab adalah buku Ilahi sebagai sarana Allah berkomunikasi dengan umat milik-Nya. Alkitab memaparkan tentang rancangan dan karya Allah pada masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita harus menerima Alkitan, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai firman Allah yang diilhamkan oleh Roh Kudus kepada para penulisnya. Isi beritanya sangat penting bagi kita yang hidup di akhir zaman ini.

Pertanyaannya ialah: "Apa kepentingan firman Allah bagi kita sebagai pengikut Yesus Kristus?" Ada beberapa jawaban yang bisa kita peroleh, yaitu:

1. Firman Allah adalah hidup kita.
"berkatalah ia kepada mereka: "Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu memerintahkannya kepada anak-anakmu untuk melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini. Sebab perkataan ini bukanlah perkataan hampa bagimu, tetapi itulah hidupmu, dan dengan perkataan ini akan lanjut umurmu di tanah, ke mana kamu pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya" - Ulangan 32:46-47.

2. Firman Allah menimbulkan kita.
"Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus" - Roma 10:17.

3. Firman Allah memberi pengharapan kepada kita.
"Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci" - Roma 15:4.

4. Firman Allah memberi kemerdekaan kepada kita.
"Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu" - Yohanes 8:31-32.

5. Firman Allah memberi hikmat kepada kita.
"Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman" - Mazmur 19:8.

6. Firman Allah memberi jaminan keselamatan kepada kita.
"Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal" - 1 Yohanes 5:13.

7. Firman Allah memberi kuasa kepada kita untuk mengalahkan yang jahat.
"Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat" - 1 Yohanes 2:14.






 

Friday, July 19, 2013

DAMPAK MENGUCAP SYUKUR SENANTIASA

Kehidupan Kristen pada umumnya selalu diwarnai dengan ucapan syukur. Dari mulai kelahiran sampai kepada kematian, ucapan syukur senantiasa mewarnai hidup orang Kristen. Cara hidup yang demikianlah yang senantiasa diminta oleh Allah di dalam Alkitab untuk dihidupi oleh umat-Nya.

Alkitab sendiri mengisahkan tokoh-tokoh yang senantiasa belajar mengucap syukur dalam segala situasi dan kondisi. Tokoh-tokoh dimaksud antara lain:

Pertama, Raja Daud.
Kita bisa menemukan dengan membaca dalam Alkitab bagaimana raja Daud menulis mazmur-mazmurnya. Mazmur-mazmur karyanya yang diilhami oleh Roh Kudus memberi inspirasi kepada kita semua dan memberi motivasi yang luar biasa.

Dalam keadaan senang, susah, tertekan, dikejar-kejar musuh, Daud selalu mengungkapkan bahwa Tuhan itu baik. Hal tersebut menjadi kata kunci yang acap kali Daud ucapkan di setiap pergumulannya. Untuk sampai kepada pernyata Tuhan itu baik, tentu Daud telah melewati suatu proses pemurnian batin dari Tuhan melalui berbagai badai hidup yang dialaminya.

Kedua, Rasul Paulus.
Kita juga dapat membaca kisah rasul Paulus yang secara transparan dipaparkan dalam Alkitab. Paulus adalah seorang rasul yang banyak berjerih lelah dalam pelayanan, banyak menderita, disesah, kerap kali tidak tidur, kerap kali dalam bahaya maut, dilempari dengan batu, masuk keluar penjara dan terdampar dalam pelayanannya - 2 Korintus 11:24-29.

Dalam surat-suratnya, rasul Paulus memaparkan bahwa banyak hambatan, tantangan dan ancaman yang ia alami dan hadapi. Tetapi dari mulut Paulus tidak pernah sekata pun keluar kata-kata sungutan, umpatan, frustrasi dan putus asa. Justru dari dalam penjara, Paulus memberi motivasi kepada orang Kristen di Filipi supaya mereka senantiasa mengucap syukur.

Itulah pribadi-pribadi yang memiliki mentalitas Kerajaan Sorga. Mentalitas yang tidak tergoncang sekalipun dalam goncangan. Mentalitas pemenang sekalipun dalam kondisi terkekang. Apa yang Raja Daud dan Rasul Paulus lakukan, seharusnya menjadi contoh bagi kita sebagai warga Kerajaan Sorga.

Kita mengucap syukur bukan pada keadaannya, tetapi kita mengucap syukur Tuhan, bahwa sekalipun keadaannya buruk, Tuhan pasti menolong dan menunjukkan kebaikan-Nya kepada kita, sehingga Iblis tidak mendapat keuntungan atas kita.

Pertanyaan penting yang patut diajukan ialah: "Apa dampak dari mengucap syukur senantiasa dalam hidup kita sebagai pengikut Yesus Kristus?" Ada beberapa dampak yang terjadi dalam diri dan hidup kita, yaitu:

1. Kita semakin mengerti bahwa Allah tidak berdiam diri
Apapun keadan, situasi dan kondisi yang kita alami dan hadapi, melalu mengucap syukur senantiasa - kita disadarkan bahwa Tuhan Allah kita tidak pernah meninggalkan kita. Dia selalu bereaksi bagi kita. Dia tidak pernah sedetik pun berdiam diri untuk menolong kita.

Rasul Paulus menulis: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" - Roma 8:28.

2. Kita semakin menjadi pribadi yang positif
Melalui cara hidup yang senantiasa mengucap syukur, kita akan memiliki karakter atau kepribadian yang positif. Cara pandang dan cara pikir kita akan berubah dari negatif menjadi positif dengan membiasakan diri untuk selalu mengucap syukur.

Rasul Paulus menulis: "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu" - Filipi 4:8.

3. Kita semakin menjadi pribadi yang dewasa di dalam iman
Dengan selalu mengucap syukur, sebenarnya kita semakin bertumbuh secara rohani. Pertumbuhan secara rohani ini menunjuk kepada kedewasaan iman kita. Kalau kita tidak mengucap syukur atau bersungut-sungut dalam hidup, iman kita tidak bertumbuh, kerohanian kita menjadi mati.

Rasul Paulus menulis: "Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur" - Kolose 2:6-7.

4. Kita semakin menjadi pribadi yang memiliki ucapan yang memberkati
Hidup yang selalu mengucap syukur akan mempengaruhi cara kita berkomunikasi dengan Tuhan dan dengan sesama kita. Kata-kata kita senantiasa memberi semangat kepada yang patah semangat. Kata-kata kita memberi harapan kepada yang kehilangan harapan. Kata-kata kita memberi kekuatan kepada yang lemah. Kata-kata kita memberi hiburan kepada yang susah. Intinya ialah melalu ucapan syukur yang kita lakukan senantiasa membuat kata-kata kita menjadi kata-kata yang memberkati orang yang mendengarnya.

Penulis Ibrani menulis: "Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya" - Ibrani 13:15.  

PERSPEKTIF BIBLIKA TENTANG KARUNIA ROHANI

Dalam perspektif Alkitab, gereja dalam upaya melaksanakan misi penyelamatan Allah bagi dunia ini tidak memiliki kuasa pada dirinya untuk keberhasilan misi tersebut. Hal ini sangat disadari oleh Allah. Mengapa? Karena menurut catatan Alkitab, "semua manusia telah berbuat dosa dan hilang kemuliaan Allah" - Roma 3:23. Kendati pun manusia melalui iman kepada Yesus diselamatkan, namun tetap memiliki kelemahan dan keterbatasan.

Dalam frame itulah, maka Allah dalam anugerah-Nya yang sempurna melengkapi gereja-Nya dengan kuasa dari tempat Mahatinggi. Kuasa dari tempat Mahatinggi itu direalisasikan melalui kuasa Roh Kudus. Sebagai Pribadi ketiga dari Allah, Roh Kudus memberikan karunia-karunia rohani kepada setiap orang percaya yang dikehendaki-Nya. Inilah yang ditegaskan oleh rasul Paulus dalam Alkitab.

Pertanyaan penting yang patut diajukan ialah: "Apa tujuan sebenarnya menurut perspektif Alkitab dengan pemberian karunia rohani oleh Roh Kudus kepada gereja-Nya?" Berikut beberapa jawaban atas pertanyaan tersebut, yang kiranya dapat membantu Gereja memahami peran karunia Roh Kudus dalam pelayanannya.

1. Untuk menyatakan kasih.

Ajaran Alkitabiah sangat jelas berkaitan dengan pemberian karunia rohani kepada Gereja-Nya yaitu untuk menyatakan kasih karunia, kuasa dan kasih Roh Kudus di dalam persekutuan Gereja-Nya. Pengertian persekutuan di sini ialah dalam ibadah raya, ibadah rumah, ibadah syukur, ibadah kelompok, ibadah keluarga dan ibadah pribadi.

Dinamika kasih itu harus tumbuh dan berkembang di dalam persekutuan Gereja. Dinamika kasih ini bisa tumbuh dan berkembang hanya apabila Gereja hidup dalam pimpinan kuasa Roh Kudus. Inilah mengikat dan menguatkan Gereja dalam melaksanakan misi ilahinya di tengah-tengah dunia ini. Bila Gereja gagal dalam menumbuh-kembangkan kasih, maka ini mengindikasikan bahwa Roh Kudus tidak lagi menjadi bagian dalam persekutuan Gereja.

Gereja melaksanakan persekutuannya hanya menjadi sebuah rutinitas dan mengikuti perintah manusia saja. Jika ini dibiarkan terus, maka cepat atau lambat Gereja tidak akan bertumbuh, stagnan dan bisa saja bubar. Allah mengetahui hal ini, karena itu melalui Roh Kudus - Gereja dilengkapi-Nya dengan karunia rohani. Tujuannya supaya gereja melalui karunia rohani tersebut menghidupkan dan menumbuhkembangkan kasih dalam persekutuannya antara satu sama lain.

2. Untuk efektivan penginjilan

Karunia rohani diberikan bukan saja untuk menyatakan kasih, melainkan juga ada hubungannya dengan proklamasi Injil (Yun. kerygma). Proklamasi Injil bisa efektif karena ada dukungan kuasa dari sorga dalam hal ini karunia rohani yang diberikan kepada Gereja. Inilah ajaran Alkitab.

Proklamasi Injil secara Alkitabiah tidak bisa dilakukan dengan kekuatan manusia. Karena peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap, melawan roh-roh jahat di udara - Efesus 6:12. 

Karunia rohani memberi kuasa dan peneguhan adikodrati/supranarual kepada pemberitaan Injil. Di sinilah kuasa Injil yang menyelamat semua orang menjadi nyata. Tanpa karunia rohani yang diberikan kepada Gereja-Nya, mustahil Gereja dapat memproklamasi Injil dengan kekuatannya sendiri.

3. Untuk memenuhi, menguatkan dan membangun rohani

Dalam perspektif Alkitab, karunia rohani bukan saja diberikan untuk menyatakan kasih dan demi efektivitas penginjilan, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan umat, menguatkan dan membangun Gereja-Nya. Lebih dari itu juga untuk membatu umat percaya untuk hidup dalam "kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni, dan dari iman yang tulus iklas" - 1 Timotius 1:5; 1 Korintus 13.

4. Untuk menjadi senjata melawan musuh

Dalam perspektif Alkitab, Gereja memiliki musuh. Dalam hal ini baik musuh yang kelihatan maupun musuh yang tidak kelihatan. Musuh yang kelihatan, yaitu dunia dengan sistemnya yang jahat dan orang-orang yang membenci ke-Kristen-an. Musuh yang tidak kelihatan, yaitu Iblis dan antek-anteknya baik dalam Gereja maupun di luar Gereja.

Karunia rohani dalam perspektif Alkitab, diberikan sebagai senjata rohani yang bisa dipakai oleh Gereja untuk melawan semua serangan musuh. Hanya dengan menggunakan selengkap senjata dari Allah sajalah yang memberi jaminan pasti kepada Gereja-Nya untuk menjadi pemenang.     

MAKNA PERJAMUAN KUDUS

1 Korintus 11:23-26. Perjamuan Kudus atau Perjamuan Tuhan dalam perspektif Alkitab merupakan perintah langsung dari Tuhan Yesus kepada para murid-Nya untuk dilakukan dalam persekutuan atau ibadah umat-Nya. Perjamuan Kudus atau Perjamuan Tuhan merupakan satu dari dua sakramen yang diakui oleh Gereja Protestan. Inilah yang membedakan dengan sakramen dalam perspektif Gereja Roma Katholik. Pelaksanaan Perjamuan Kudus atau Perjamuan Tuhan antara gereja yang satu dengan gereja yang lain tidak sama. Terjadinya hal ini karena Alkitab sendiri tidak memberi penjelasan kapan sebenarnya Perjamuan Kudus atau Perjamuan Tuhan dilaksanaka. Pertanyaan penting yang harus diajukan ialah: "Apa sesungguhnya makna Perjamuan Kudus atau Perjamuan Tuhan bagi Gereja?" Perjamuan Kudus atau Perjamuan Tuhan memiliki makna yang menyentuh tiga dimensi waktu, yaitu: 1. Dimensi waktu masa lalu Dalam ajaran Alkitabiah, Perjamuan Kudus atau Perjamuan Tuhan mempunyai jangkauan ke masa lalu, yaitu merupakan suatu peringatan (Yun. anamnesis) - ayat 24-26. Peringatan dimaksud ialah kepada kematian Yesus di atas kayu salib bagi penebusan orang berdosa. Artinya bahwa di masa lalu Yesus telah mengorbankan diri-Nya demi keselamatan manusia. Yesus rela mati di atas kayu salib sebagai korban tebusan bagi kita. Inilah sebuah fakta Alkitab yang diingat ketika Perjamuan Kudus dilakukan. Kemudian melalui Perjamuan Kudus yang ada hubungannya dengan waktu masa lalu ialah sebagai suatu ucapan syukur (Yun. eucharistia) atas berkat-berkat dan keselamatan yang disediakan oleh Allah melalui pengorbanan Yesus. 2. Dimensi waktu masa kini Dalam ajaran Alkitab, Perjamuan Kudus atau Perjamuan Tuhan, bukan saja bermakna waktu lampau tetapi juga punya makna waktu masa kini. Dimensi waktu masa kini menunjuk kepada suatu makna sebagai suatu persekutuan (Yun. koinonia) dengan Yesus Kristus. Ketika gereja melaksanakan Perjamuan Kudus atau Perjamuan Tuhan, maka Yesus hadir di dalam persekutuan tersebut - 1 Korintus 10:16. Kehadiran Yesus adalah untuk melawat umat-Nya, memberi iman dan pengharapan kepada umat-Nya dan memberi kesembuhan kepada umat-Nya serta memberi penghiburan bagi umat-Nya. Selanjutnya, Perjamuan Kudus atau Perjamuan Tuhan yang berkaitan dengan dimensi waktu masa kini ialah merupakan suatu pengakuan (Yun. kaine diatheke)akan kuasa, otoritas, kedaulatan dan ke-Tuhan-an Yesus Kristus atas gereja-Nya. 3. Dimensi waktu masa yang akan datang Dalam ajaran Alkitab, Perjamuan Kudus atau Perjamuan Tuhan bukan saja menjangkau dimensi waktu masa lalu dan dimensi waktu masa kini, tetapi juga menjangkau waktu masa yang akan datang. Dimensi waktu masa yang akan datang merupakan suatu jaminan akan ada bersama Yesus di dalam Kerajaan Sorga - Yohanes 14:3. Maksudnya ialah ketika gereja melaksanakan Perjamuan Kudus atau Perjamuan Tuhan, maka maknanya ialah memberi jaminan dan kepastian kepada gereja-Nya atau setiap orang yang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi bahwa kita akan ada bersama Yesus di dalam Kerajaan Sorga pada masa yang akan datang. Lebih lanjut, Perjamuan Kudus atau Perjamuan Tuhan merupakan suatu tindakan mengharapkan kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Ini meneguhkan kerinduan kita untuk bertemu muka dengan muka dengan Yesus di masa depan. Jadi, Perjamuan Kudus atau Perjamuan Tuhan memberi motivasi yang kuat kepada kita untuk setia menanti kedatangan Yesus untuk menjemput kita mempelai perempuan agar bersatu dengan Yesus sebagai mempelai laki-laki di Kerajaan Sorga.

Wednesday, July 17, 2013

HIDUP DALAM KETENANGAN

Mazmur 62:6-7; 1 Petrus 4:7b. Semua orang di bawah kolong langit ini menginginkan hidup dalam ketenangan. Setiap suku, kaum, bangsa dan bahasa menghendaki agar hidup yang dijalani ialah hidup dalam ketenangan. Laki-laki, perempuan, tua, muda, besar, kecil tanpa kecuali semua punya hasrat yang sama yaitu hidup dalam ketenangan. Faktanya hidup tenang itu seakan sangat jauh. Karena di mana-mana ada peperangan. Di mana-mana ada bencana alam. Di mana-mana ada kerusuhan. Di mana-mana ada terorisme. Di mana-mana ada pembunuhan. Di mana-mana ada perampokan. Semua situasi itu menyebabkan banyak orang kehilangan rasa tenang dalam hidupnya. Sebagai umat yang telah ditebus oleh Yesus di atas kayu salib, tidak membebaskan kita dari semua situasi dan kondisi seperti yang dipaparkan di atas. Kita juga ada dalam keadaan yang sukar, sehingga rasa tenang tidak dapat kita miliki. Pertanyaan adalah: "Bagaimana supaya kita bisa hidup dalam ketenangan?" Berikut beberapa cara yang bisa membuat hidup kita tenang. 1. Memahami bahwa TUHAN sumber ketenangan hidup kita - Mazmur 62:6-7. Mengapa dikatakan demikian? Karena: pertama, ada harapan yang tidak mengecewakan pada TUHAN, Allah kita; kedua, ada perlindungan yang sempurna pada TUHAN, Allah kita; ketiga, ada keselamatan yang pasti pada TUHAN, Allah kita. 2. Kembangkan penguasaan diri yang sehat - 1 Petrus 4:7a. Bagaimana cara mengembangkan penguasaan diri yang sehat? pertama, membiasakan diri untuk berpikir positif - Filipi 4:8; kedua, membiasakan diri untuk hidup ramah, penuh kasih mesra dan saling mengampuni - Efesus 4:31-32; ketiga, membiasakan diri untuk cepat mendengar dan lambat memberi respon - Yakobus 1:19-21; 3:9-10. 3. Jadikan doa sebagai saluran mendapatkan ketenangan hidup - 1 Petrus 4:7b. Mengapa doa sebagai saluran mendapatkan ketenangan hidup? Karena: pertama, melalui doa kita punya akses langsung ke hati TUHAN, Allah kita - Ibrani 4:14-16; kedua, melalui doa kita mengungkapkan seluruh isi hati kita kepada TUHAN, Allah kita; ketiga, melalui doa TUHAN, Allah kita menjawab pergumulan kita. Hidup dalam ketenangan bisa kita peroleh bila: pertama, memahami bahwa TUHAN sumber ketenangan hidup kita; kedua, kembangkan penguasaan diri yang sehat; ketiga, jadikan doa sebagai saluran untuk mendapatkan ketenangan hidup.

Tuesday, July 16, 2013

BAGAIMANA MEMULIAKAN TUHAN DI TEMPAT KERJA?

Hidup sebagai orang Kristen di tengah dunia ini sesungguh memiliki peran yang sangat strategis. Peran ini merupakan misi ilahi yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Secara khusus dalam dunia kerja, orang Kristen harus bisa hidup memuliakan TUHAN dan menjadi berkat bagi sesama atau rekan kerja. Bagaimana memuliakan TUHAN di tempat kerja? Ini adalah pertanyaan penting yang bisa dijawab oleh setiap orang Kristen, yaitu dengan cara: Ketergantungan. Berangkat ke tempat kerja dengan secara total bergantung pada Allah (Am 3.5-6;Yoh 15.1). Tanpa Dia, Anda tidak dapat bernafas, bergerak, berpikir, atau berbicara. Belum lagi untuk memiliki pengaruh secara spiritual. Bangun di pagi hari dan beritahukan pada Allah betapa Anda memerlukan Dia. Berdoa untuk bantuan. Integritas. Melakukan tugas dengan kejujuran yang mutlak dan menjadi orang yang dapat dipercaya. Tepat waktu. Bekerja sehari penuh. "Janganlah mencuri." Lebih banyak orang yang merampok bos mereka dengan bermalas-malasan di tempat kerja ketimbang mencuri uang kas. Keahlian. Lakukan yang terbaik. Allah telah memberikan bukan hanya kasih karunia integritas tapi karunia keterampilan. Hargailah karunia itu dengan menjadi pengurus yang baik akan keterampilan-keterampilan itu. Pertumbuhan keterampilan ini dibangun di atas dasar ketergantungan pada Tuhan dan integritas. Dampak. Jadikan gol Anda untuk membantu perusahaan berdampak dalam meningkatkan kualitas kehidupan dan bukannya membinasakan jiwa. Ada industri yang mempunyai dampak yang membinasakan (contohnya, pornografi, judi, aborsi, penipuan, dll). Jadikan orang yang berdampak dengan menyumbang pada peningkatan kualitas kehidupan. Komunikasi. Tempat kerja adalah tempat terjaring banyak hubungan. Relasi itu mungkin karena komunikasi. Secara tidak langsung salurkan pandangan dan nilai-nilai Kristiani Anda dalam komunikasi seharian. Jangan menyembunyikan terang Anda. Tempatkan di tempat tinggi. Dengan elegan. Natural. Penuh sukacita. Biarlah orang yang mengasihi keselamatan mereka terus berkata, Allah itu maha besar! (Maz. 40.17) Kasih. Layanilah orang lain. Jadilah orang yang menawarkan diri untuk membeli makanan. Untuk menyopir. Untuk mengatur acara. Berikan perhatian pada orang lain.Jadilah orang yang bukan hanya bergosip dan bercerita lucu, tapi orang yang prihatin pada hal-hal yang berat dan menyakitkan dalam kehidupan orang lain. Kasihilah teman sekerja, dan arahkan mereka pada Dia yang dapat menanggung segala beban kita. Uang. Pekerjaan adalah tempat di mana Anda menghasilkan uang dan juga tempat menghabiskan uang. Ingatlah bahwa semuanya milik Allah, bukan milik Anda. Anda hanya orang yang dipercayakan untuk mengurusnya. Salurkan penghasilan sesuai dengan kemurahan Tuhan. Jangan bekerja untuk memiliki. Bekerja untuk memberi dan menginvestasikan pada hal-hal yang memuliakan Tuhan. Biarlah uang Anda berbicara pada orang lain bahwa Harta Anda yang terunggul adalah Kristus. Bersyukur. Selalu bersyukur pada Allah untuk kehidupan, kesehatan, pekerjaan dan Kristus. Jadilah orang yang selalu bersyukur di tempat kerja. Jangan menjadi orang yang suka mengeluh dan mengomel. Biarlah rasa syukur Anda pada Allah terlihat dalam hubungan dengan orang lain. Jadilah orang yang dikenal sebagai penuh harapan, rendah hati dan penuh rasa syukur di tempat kerja. Masih banyak yang dapat dikatakan tentang memuliakan Allah di tempat kerja. Daftar ini hanya suatu permulaan. Tambahkan pada daftar ini seiring dengan pencerahan dari Allah sendiri. Pokoknya: Apakah engaku makan atau minum, atau melakukan sesuatu, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. (1 Ko. 10.31)

Friday, July 12, 2013

Berkat Didalam Penampakan Yesus

Belajar Dari Yesus

Iman Yang Dinamis

Berkat Di Balik Penderitaan

Pertandingan Iman Yang Benar

Olehmu Semua Kaum Akan Mendapat Berkat

Silsilah Yang Cacat

Diberkati Untuk Menjadi Berkat

Komitmen Untuk Memberi Dampak

Karena Kasih-Nya

Kesempurnaan Alkitab

Kaleb

Kebangkitan Kristus Jaminan Kebangkitan Kita

Injil Dalam Surat Galatia

Menjadi Terang Yang Efektif

Diberkati Untuk Menjadi Berkat

Akibat Menjual Yesus

Thursday, July 11, 2013

Milikilah Hidup Yang Baik

Milikilah Cara Hidup yang Baik

1 Petrus 2:11-17 1. Dalam perspektif Alkitab, surat Petrus ditujukan kepada jemaat Kristen yang berada di perantauan atau “orang-orang pendatang” (I Petrus 1:1), yang berarti “penduduk asing yang tinggal sementara.” Inilah pandangan Alkitabiah terhadap kehidupan kita di dunia ini. 2. Menurut catatan sejarah suci Alkitab, waktu surat ini ditulis orang-orang Kristen sedang berada dalam berbagai-bagai penderitaan dan penganiayaan, yaitu: a. Mengalami penderitaan karena mereka hidup saleh serta berbuat baik dan benar (I Petrus 2:19-23; 4:1-4, 15-19). b. Dinista karena nama Kristus (I Petrus 4:14). c. Dicaci maki oleh orang-orang yang belum diselamatkan (I Petrus 3:9-10). Dalam catatan Alkitab, akibat dari penderitaan dan penganiayaan ini: ada yang murtad, ada yang tetap bertahan. Pada saat kegelapan seperti inilah Petrus menulis surat kepada mereka. Tulisan Petrus ini diilhami oleh kuasa Roh Kudus, sehingga kebenarannya adalah kebenaran Alkitabiah. 3. Penekanan Petrus adalah dalam keadaan bagaimanapun orang Kristen harus tetap hidup dan bertumbuh dalam iman yang Alkitabiah. Sebab di dalam diri orang Kristen ada potensi untuk bertumbuh karena memiliki (II Petrus 1:3-4): a. Kuasa Ilahi, ayat 3 b. Janji-janji Ilahi, ayat 4 c. Kodrat Ilahi, ayat 4 Beberapa cara hidup yang harus dimiliki orang Kristen dapat bertumbuh ke arah kedewasaan yang sempurna di dalam Kristus Yesus. I. HIDUP DALAM KEKUDUSAN (Ayat 11-12) Petrus mengingatkan pembacanya supaya mereka mengesampingkan sikap hati tertentu yang salah yang akan merusak kesaksian hidup mereka. Hal yang sangat penting untuk orang Kristen adalah harus hidup dalam kesucian, yaitu menurut standar Alkitab. Untuk dapat hidup dalam kesucian, seseorang harus mengalami kelahiran kembali - dalam hal ini menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Inilah iman Alkitabiah. Karena seorang Kristen baru dapat dikatakan Kristen bila telah melewati titik star “Kelahiran Kembali.” Seorang yang telah dilahirkan kembali menurut Alkitab, harus masuk dalam proses pengudusan. Salah satu kendala atau hambatan pertumbuhan iman adalah orang belum siap meninggalkan dosa-dosanya. Ilustrasi : Tidak mungkin air yang kotor mencuci pakaian yang kotor. Dengan kata lain, Allah baru mau memakai seseorang menjadi alat-Nya, jika orang tersebut hidup dalam kekudusan. II. HIDUP DALAM KETAATAN, Ayat 13-14 Petrus mengatakan bahwa orang Kristen harus tunduk kepada pemerintah, tak peduli pemerintah itu Yahudi atau non Yahudi. Alasan ketundukan kita adalah karena Tuhan/Allah memerintahkan kita untuk tunduk kepada pemerintah yang ditetapkan oleh-Nya. Inilah ketundukkan dan ketaatan yang Alkitabiah. • Bandingkan Roma 13:1, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya”. Karena ketaatan kepada pemerintah itu harus dilakukan karena/demi Allah, maka jelas bahwa kita tidak boleh mentaati pemerintah pada saat pemerintah menyuruh/melarang kita untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Dalam hal seperti ini kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia/pemerintah (Kis 4:19 Kis 5:29). Hal ini sangat ditegaskan oleh Alkitab bagi kita. III. HIDUP TAKUT AKAN ALLAH, Ayat 15-17 Selain kesucian hidup dan ketaatan, hal yang juga dapat membuat orang Kristen dapat menjadi saksi Tuhan yang baik ialah hidup takut akan Allah. Di sini tentu sesuai dengan ajaran Alkitab. Bagaimana kita dapat hidup takut akan Allah, yaitu dengan: 1. Berbuat Baik (ayat 15) Alexander Nisbet: “Sekalipun kadang-kadang cocok bagi umat Tuhan untuk menggunakan pembelaan diri dengan kata-kata untuk membersihkan diri mereka sendiri, dan cara-cara pembelaan yang sah lainnya terhadap fitnahan palsu (Kis 24:10-dst, 25:8) tetapi sikap yang kudus dan kristiani merupakan cara yang paling kuat, untuk membantah fitnahan dari orang-orang jahat; dan untuk membungkam mulut mereka, dari berbicara menentang orang-orang saleh.” 2. Hidup sebagai Orang Merdeka (ayat 16) Orang Kristen memang adalah orang merdeka. Kata Alkitab, Yesus Kristuslah yang memerdekakan kita. Ketika Yesus Kristus memerdekakan kita, maka kita benar-benar merdeka. Mereka merdeka dari setan dan dosa, tetapi mereka adalah hamba-hamba Allah, dan karena itu harus taat kepada Allah, dan karena Allah menyuruh mereka taat kepada pemerintah, maka mereka harus taat kepada pemerintah. 3. Menghormati dan Mengasihi (ayat 17) Menghormatinya dengan hati yang tulus, bukan dengan motivasi yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Kita harus memiliki motivasi yang Alkitabiah. Kita juga harus mengasihi orang Kristen KTP dan orang kafir (Mat 22:39), dan bahkan musuh (Mat 5:44), tetapi untuk sesama orang Kristen, hal ini harus lebih ditekankan! Bandingkan Gal 6:10 - “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman”. Alkitab atau Firman Tuhan melalui teks ini telah menyatakan cara hidup baik yang harus dimiliki oleh setiap anak-anak Tuhan jika mau mengalami pertumbuhan iman yang sehat, yaitu: hidup dalam kesucian, hidup dalam ketaatan, dan hidup takut akan Allah. Kalau ada di antara kita sebagai umat Tuhan yang belum memiliki cara hidup yang baik, ingatlah bahwa Alkitab atau Firman Tuhan dengan tegas menantang kita untuk bertindak mengambil keputusan untuk hidup sebagai umat Tuhan yang setia melaksanakan peritah-Nya. Amin. Pdt. Robby Reno, M.Th

Wednesday, July 10, 2013

Hidup Berkemenangan

“… dalam semuanya itu, kita lebih dari orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:37; 28-39) Setiap orang tentu menghendaki agar kehidupannya baik, berhasil, dan menang. Semua dan banyak orang juga menyadari bahwa hidup baik, berhasil dan menang ini tentu tidak akan mudah digapai dengan cara yang bagaikan membalikkan telapak tangan. Hal ini memastikan bahwa harus ada upaya keras untuk menggapai keberhasilan tersebut. Apalagi, dalam kenyataan hidup, tidak ada yang mudah, dan lagi, ada saja tantangan berat yang datang dari berbagai sisi menghadang kehidupan kita. Dalam kaitan ini, kalau mengaitkan kenyataan ini dengan tema percakapan kita berdasarkan Roma 8:28-39 tentang Hidup Berkemenangan oleh karya Kristus, kita patut mempertanyakan, bagaimana hal ini dapat terjadi? Bayangkan saja, karya Kristus tidak melibatkan upaya apa pun dari pihak kita. Menghadapi kenyataan hidup yang keras, kita tidak mengerjakan apa apa untuk menggapai kemenangan, namun bagi kita ada janji bahwa “… dalam semuanya itu, kita lebih dari orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:37). Apa sesungguhnya makna kebenaran Firman Allah ini bagi kemenangan hidup yang kita dambakan? Rahasia ini dapat digali dalam Roma 8:28-39, yaitu antara lain: I. PANGGILAN TUHAN ADALAH DASAR KEMENANGAN HIDUP UMAT-NYA • Apa sesungguhnya makna pernyataan “panggilan TUHAN Allah adalah dasar kemenangan hidup umat-Nya? Dan bagaimana IA mengerjakannya bagi kita? 1. Pengorbanan Yesus Kristus adalah jaminan TUHAN Allah memilih, menetukan, memanggil, membenarkan dan memuliakan kita dengan hak istimewa sebagai umat-Nya (28-30). 2. Dalam pemilahan-Nya, IA turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan atas kita umat-Nya, dimana IA menjamin menyertakan semua berkat kemenangan bagi kita (31-32). 3. Dalam pemilihan Allah atas umat-Nya, IA telah menetapkan bahwa Yesus Kristus menjadi Pembela, sehingga tidak akan ada siapa dan apa pun yang dapat menggugat kita umat-Nya (33-34). IMPLIKASI: 1. Pengorbanan Yesus Kristus adalah dasar kemenangan bagi kita, Umat Pilihan TUHAN Allah. 2. Pengorbanan Yesus Kristus menjamin tindakan Allah menyertakan semua berkat kemenangan-Nya bagi kita. 3. Pengeorbanan Yesus Kristus memastikan bahwa IA adalah Pembela yang meneguhkan kemenangan umat-Nya. II. KASIH TUHAN ADALAH KEKUATAN PENJAMIN KEMENANGAN HIDUP UMAT-NYA • Apa sesungguhnya makna kebenaran tentang kasih TUHAN sebagai kekuatan penjamin kemenangan hidup umat-Nya itu? Dan, bagaimana IA melaksanakannya bagi kita? 1. Kasih Yesus Kristus yang kuat mengikat kita kepada-Nya sehingga kita tidak dapat dikalahkan oleh kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, pedang, atau maut sekalipun (35-36). 2. Kasih Yesus yang kuat menjadikan kita pemenang – atas semua kuasa, yaitu maut, hidup, malaikat, pemerintah, kuasa, dan makluk apa pun, karena semuanya tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (37-39). IMPIKASI: 1. Kasih Kristus yang teguh adalah jaminan kemenangan kita umat-Nya, karena Ia memastikan bahwa apa pun tidak dapat mengalahkan kita. 2. Kasih Kristus adalah kekuatan ampuh yang meneguhkan kemenangan kita, karena Ia memastikan bahwa kekuatan apa pun tidak dapat menaklukkan kita. KESIMPULAN: 1. Panggilan TUHAN Allah bagi kita umat-Nya melalui karya Yesus Kristus di atas kayu salib adalah dasar kemenangan kita, karena Ia memberi hak istimewa bagi kita dan IA pun telah melakukan segala seuatu bagi kita serta membela kita umat-Nya. 2. Kasih Kristus adalah jaminan kekuatan kita yang memberikan kemenangan, karena IA memastikan bahwa tidak akan ada kuasa apa pun yang dapat mengalahkan kita umat-Nya APLIKASI Bagaimana mewujudkan kemenangan yang telah disediakan Allah bagi kita melalui pengorbanan Yesus Kristus dalam kehidupan keseharian? 1. Kita harus membangun tekad untuk hidup sebagai umat kesayangan-Nya, yang hidup dengan penuh kesadaran bahwa pengorbanan Yesus Kristus menjamin hidup kita, karena Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. 2. Kita harus meneguhkan diri dengan keyakinan bahwa pengorbanan Yesus Kristus adalah bukti kasih Allah yang kuat atas kita, sehingga Ia membela kita dan menjadikan kita pemenang atas segala kuasa yang kita hadapi dalam kehidupan ini. • Selamat menjadi pemenang di dalam TUHAN Yesus Kristus. Amin Pdt. Dr. Yakob Tomatala

Doa Keliling Dalam Perspektif Peperangan Rohani

Moving Forward

Tanpa terasa semester pertama tahun ini sudah kita lalui. Tentu ada sejumlah kenangan yang tersimpan dalam memori kita di sepanjang semester tersebut. Kenangan manis maupun pahit silih berganti. Semua itu memperkuat iman dan harapan kita kepada Tuhan. Ada juga tantangan dan rintangan di jalan yang kita lalui. Namun itu tidak boleh menghentikan langkah kita untuk maju di semester kedua ini. Ada visi Tuhan yang harus kita wujudkan dalam semester kedua ini. Visi yang akan membawa kita memasuki tanah perjanjian kita. Tanah perjanjian yang berlimpah dengan susu dan madunya. Tanah perjanjian yang disiapkan Tuhan untuk kita - Ulangan 1:3-15.