klik juga iklan dibawah ya

Tuesday, March 26, 2013

Kebangkitan Kristus Jaminan Kebangkitan Kita

1 Korintus 15:1-58. Kebangkitan Kristus dari antara orang mati menjadi dasar iman yang kuat dan pengharapan yang teguh dalam dogmatika Kristen. Inilah yang dijelaskan oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:1-58. Menyangkal kebangkitan Kristus dari antara orang mati (ay 12), berarti meniadakan seluruh makna Injil, dengan perkataan lain Injil adalah Kabar Baik menjadi tidak benar. Rasul Paulus menunjukkan kebenaran kebangkitan Kristus adalah suatu bagian yang pasti dari Injil itu (ay 1-11) dan kebangkitan Kristus merupakan jaminan yang pasti bagi kebangkitan orang Kristen (ay 12-34). Dengan demikian, kebangkitan Kristus menjadi doktrin/ajaran yang sangat penting dalam kekristenan. I. Perjanjian Lama telah menubuatkan tentang KristusYesaya 53:10-12: “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan jiwanya, ia akan melihat terang dan menjadi puas, dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak”. • Mazmur 16:10: “Sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan“. II. Hidup orang percaya tidak hanya di dunia ini – ay 19-20  Ada hidup sesudah mati – Yoh.3:16; Roma 6:23; Pkh. 12:7.  Ada hukuman sesudah mati – Ibr. 9:27; Luk. 16:23.  Dunia ini sementara, numpang lewat dan perantau – 1 Pet. 2:11. III. Kebangkitan tubuh orang percaya itu nyata  Yesus bangkit dari antara orang mati sebagai bukti ada kebangkitan orang mati – 1 Tes. 4:14; Mat. 28:5-6; 1 Kor. 15:12, 20-23.  Tubuh kebangkitan orang Kristen akan cocok dengan suasana baru dalam Kerajaan Sorga – 2 Kor. 5:1-4. Kebangkitang Yesus menjadi jaminan yang pasti bagi kebangkitan kita di masa yang akan datang. Kebangkitan Yesus memberikan pengharapan yang pasti bagi kita orang percaya kepada-Nya untuk hidup bersama-Nya dalam kekekalan. Kebangkitan Yesus memberikan kepastian kepada kita bahwa mereka yang kita kasihi yang meninggal di dalam Kristus akan berjumpa dengan kita dalam Kerajaan Sorga.

Saturday, March 23, 2013

Akibat Menjual Yesus

Matius 26:1-16. Di kalangan orang Kristen, nama YUDAS ISKARIOT sdh tdk asing lagi. YUDAS ISKARIOT dianggap pengkhianat. Inilah STIGMA negatif orang pada umumnya terhadap Yudas Iskariot. Itu sebabnya tidak ada orang tua yang memberikan nama kepada anaknya Yudas. Pada hal, nama Yudas itu memiliki arti: TERPUJILAH TUHAN. Pengkhianatan terhadap Yesus secara teologis sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Hal itu ditegaskan dalam Mazmur 41:10: “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku”. Ayat ini menceritakan kepada kita bahwa pengkhianatan terhadap Yesus dilakukan oleh seorang sahabat karib-Nya. Sahabat yang dimaksud ialah Yudas Iskariot. Dia hidup bersama Yesus selama 3 tahun sebagai salah seorang murid-Nya. Dia ikut melayani, tapi hatinya tidak benar dihadapan Allah. Penggenapan dari nubuat tersebut terdapat dalam Injil Yohanes 13:21-27. Selanjutnya, bicara soal TUMIT, ada hubungannya dengan Kejadian 3:15. Jadi, dari fakta tersebut dapat dikatakan bahwa YUDAS merupakan alat Iblis. Setiap perbuatan yang kita lakukan dalam hidup ini, selalu ada konsekwensi logis yang setimpal dengan perbuatan tersebut. Entahkah perbuatan itu baik ataukah jahat, yang pasti ada imbalan yang sesuai. Rasul Paulus menegaskan demikian: “… Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang dituainya” – Galatia 6:7b. I. Apa motif Yudas menjual Yesus? – Matius 26:3-4, 14-16. A. Motif politik dan ideologi – Matius 26:3-4. B. Motif ekonomi – Matius 26:14-16; Yohanes 12:4-6. C. Motif memaksa Yesus menyatakan diri-Nya Mesias – Matius 27:1-4. II. Apa motif orang Kristen ‘menjual’ Yesus? A. Motif sakit hati. Salah satu pemicu orang Kristen meninggalkan Yesus ialah faktor SAKIT HATI. B. Motif asmara. ASMARA seperti magnet punya daya tarik yang kuat, sehingga seseorang bisa tinggalkan Yesus. Rasul Paulus menulis: "Jgnlah kamu mrpk pasangan yg tdk seimbang dgn org-org yg tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dpt bersatu dgn gelap?" 1 Kor. 6:14. Secara rohani, orang Kristen tidak boleh bersatu dengan orang yang belum percaya, yang MATI secara ROHANI. Prinsip tersebut digunakan oleh Paulus utk menekankan bahwa tdk boleh dan sungguh bertentangan bila ORANG BERIMAN mrpk pasangan yg tdk seimbang MENIKAH dgn org yg tdk beriman kpd Yesus Kristus. C. Motif ekonomi. Mengikut Yesus, bukan saja bicara soal IMAN, tetapi juga ada hubungan dengan urusan "KAMPUNG TENGAH". Biasanya orang sering TIDAK BISA bertahan di ranah IMAN, kalau berurusan dengan kebutuhan hidup. IV. Apa akibat mejual Yesus? – Matius 27:5; Kisah Para Rasul 1:17-19. A. Aspek spiritual – matinya kepekaan rohani – Yohanes 13:27. Menjual atau meninggalkan Yesus sama dengan roh manusia binasa dan mati masuk NERAKA. Menjual dan meninggalkan Yesus, itu sama dengan mengusir Yesus keluar dari hidup seseorang dan membiarkan IBLIS yang menjadi PENGUASA hidupnya. "Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia KERASUKAN IBLIS" - Yohanes 13:27. Menjual dan meninggalkan Yesus, itu sama dengan mengusir Yesus keluar dari hidup seseorang dan membiarkan IBLIS yang menjadi PENGUASA hidupnya. "Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia KERASUKAN IBLIS" - Yohanes 13:27. B. Aspek psikologi – depresi berat – Matius 27:5. Yudas secara psikologi mengalami depresi setelah dia mengetahui bahwa Yesus divonis mati. Matius 27:5: "Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri". Orang yang sudah mengalami depresi berat, maka 99,99% memiliki kecenderungan untuk bunuh diri itu tinggi. Yudas, sebelum bunuh diri, ada upaya yang dilakukan untuk mengatasi rasa depresinya. Baca: Mat. 27:3-4. Yudas menemui para imam dan tua-tua bangsa Yahudi, selain untuk mengembalikan uang tiga puluh perak juga untuk mengakui dosanya. Pengakuan Yudas: "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah". Jawaban para imam dan tua-tua Yahudi tidak menyelesaikan masalah Yudas. "Tetapi jawab mereka: "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri". Yudas mengakhiri hidupnya di tangannya sendiri dengan menggantung diri. Kematian Yudas sangat tragis. Dahan atau tali tempat ia menggantung dirinya putus lalu karena berat badannya ia jatuh dan isi perutnya terburai keluar - KPR 1:17-19. C. Aspek eskatologis – Markus 14:21; Ibrani 6:4-6. Menurut para ahli teologi keselamatan, Yudas tidak selamat. Kesimpulan ini didasarkan pada fakta-fakta yang dicatat dalam Alkitab. "Anak Manusia memang akan pergi sesuai dgn yg ada tertulis ttg Dia, akan ttp celakalah org yg olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lbh baik bagi org itu sekiranya ia tdk dilahirkan" Mrk. 14:21. Baca: Ibrani 6:4-6. Kisah Yudas Iskariot menjadi sebuah peringatan bagi kita bahwa betapa mengerikan akibat menjual dan meninggalkan Yesus. Oleh sebab itu, marilah kita memperkuat iman kita dan menambah pemahaman kita akan firman Tuhan. Dengan demikian, kita tidak akan menjual dan meninggalkan Yesus seberat dan sesulit apapun hidup kita. Amin

Wednesday, March 20, 2013

Menjadi Yang Terbaik

Setiap orang berpotensi untuk menjadi yang terbaik. Pernyataan ini menegaskan bahwa menjadi yang terbaik itu bukan milik orang-orang tertentu saja. Bukan juga milik orang-orang kaya. Bukan hanya anak-anak pejabat. Bukan hanya milik kalangan orang beruntung. Tetapi menjadi yang terbaik terbuka jalan bagi siapa saja untuk mencapainya. Pertanyaan mendasar untuk dipikirkan ialah: “Apa alasannya bahwa setiap orang berpotensi menjadi yang terbaik?” I. Kita diciptakan untuk menjadi yang terbaik Tuhan tidak menciptakan kita hanya untuk biasa-biasa saja. Tetapi Dia ciptakan kita menurut gambar-Nya untuk sesuatu yang besar dan mulia. Desain Tuhan bagi kita sangat sempurna. Dia hadirkan kita dibumi ini tentu dengan visi dan misi khusus, yang melalui rencana-Nya bagi dunia ini terlaksana. Bila Anda merasa dan berpikir bahwa mustahil bagi Anda untuk menjadi yang terbai, buanglah jauh-jauh mindset semacam itu. Katakan pada diri Anda bahwa Anda bisa menjadi yang terbaik karena Anda diciptkan Tuhan menjadi yang terbaik. Kelahiran Anda ke dunia ini ada dalam rancangan Tuhan yang sempurna. Yakinkan diri Anda bahwa bersama dengan Tuhan, Anda pasti berhasil menjadi yang terbaik. Jangan kecil hati dan merendahkan diri Anda hanya karena Anda anak orang tidak berpunya. Jangan tawar hati hanya karena Anda lahir dalam keluarga yang tidak seperti orang lain. Percayalah bahwa Tuhan ciptakan Anda dengan maksud yang mulia dan Dia akan membantu Anda untuk mencapai yang terbaik dalam hidup. II. Kita ditebus untuk menjadi yang terbaik Kita semua memiliki latar belakang yang sama. Maksud saya ialah bahwa kita semua orang berdosa yang selalu melakukan kejahatan. Dosa merusak hidup kita. Dosa merusak gambar Allah dalam hidup kita. Dosa menghambat kita untuk menjadi yang terbaik. Dosa membuat hubungan kita dengan Allah menjadi rusak. Dosa menyebabkan bumi tempat kita hidup terkutuk. Dosa menyebabkan kita kehilangan kemuliaan Allah. Tetapi kabar baiknya ialah bahwa Allah mengasihi kita. Dia yang menciptakan kita tentunya Dia sanggup untuk memulihkan kita. Kitab Suci mencatat: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”. Kasih Allah dibuktikannya dengan memberikan Kristus bagi kita. Kristus menebus kita dari keberdosaan kita. Kristus menyerahkan nyawa-Nya dan mau mati bagi kita ketika kita masih berdosa. Tidak ada satu manusia pun yang menanggung hukuman yang divoniskan kepada sesamanya. Tetapi Yesus Kristus mau melakukannya bagi kita. Semua ini dilakukan supaya kita bisa menjadi yang terbaik. Allah memandang kita berharga. Itu sebabnya Dia mengutus Yesus Kristus ke dunia untuk memulihkan keadaan kita. Melalui penebusan inilah kita menjadi yang terbaik. III. Kita dilengkapi untuk menjadi yang terbaik “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasehati, baiklah kita menasehati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang member pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” Untuk menjadi yang terbaik, tentu tidak terjadi begitu saja. Allah yang menciptakan dan menebus kita, melengkapi kita dengan sejumlah potensi yang dapat membantu kita untuk menjadi yang terbaik. Kita diberi akal budi, pengetahuan dan potensi yang lain supaya kita meraih apa yang menjadi mimpi kita. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menjadi terbaik. Kita semua berpotensi untuk menjadi yang terbaik. Karena kita diciptakan untuk menjadi yang terbaik; kita ditebus untuk menjadi yang terbaik; kita dilengkapi untuk menjadi yang terbaik.

Cara Menghadapi Masa Yang Sukar

Masa yang sukar adalah masa yang tidak disukai oleh siapapun di bawah kolong langit ini. Termasuk orang Kristen pun sering tidak menginginkan masa sukar itu terjadi pada dirinya. Mengapa masa sukar itu tidak disukai? Tentu ada banyak jawaban yang bisa kita kemukakan. Misalnya, karena masa yang sukar itu membuat banyak orang mengalami tekanan psikologis yang hebat. Karena masa yang sukar itu membuat banyak orang kehilangan semangat dan motivasi dalam hidupnya. Dan tentu masih banyak lagi jawaban yang lain. Lalu apa bentuk dari masa yang sukar itu? Wujud atau bentuk dari masa sukar itu antara lain, sakit yang berkepanjangan, krisis ekonomi global yang tidak tahu kapan harus berakhir, bencana alam yang terus meningkat sehingga menimbulkan kerusakan yang parah dan korban jiwa yang banyak, peperangan yang telah memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan, dan lain sebagainya. Dalam Habakuk 3:17-19, ditegaskan demikian: "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku". Habakuk hidup pada jaman di mana bangsa Israel mengalami penindasan oleh musuh-musuhnya. Dalam keadaan semacam itu, tentu hidup tidak bebas. Juga tidaklah gampang mempertahankan hidup di dalam iman. Masa-masa yang sukar di mana musuh selalu menindas, menyebabkan sendi-sendi kehidupannya terpengaruh. Ladang yang biasanya menjadi tempat yang mendatangkan penghasilan dan merupakan tempat tumpuan bagi penghidupannya tidak lagi membuahkan hasil. Ternak yang menjadi harta kekayaannya terhalau dari kurungannya. Tidak ada lagi simpanan baginya. Sedangkan dia mempunyai kebutuhan yang harus terus dipenuhi. Bukankah hal-hal ini juga yang sedang melanda kehidupan kita hari-hari ini? Bagaimana supaya daya tahan dan motivasi hidup kita tetap terjaga? Bagaimana supaya dalam masa yang sukar, kita tidak kehilangan motivasi? Berikut beberapa cara yang bisa membantu kita: 1. Berdoa kepada TUHAN Allah Habakuk 3:1-2: "Doa nabi Habakuk. Menurut nada ratapan. TUHAN, telah kudengar kabar tentang Engkau, dan pekerjaan-Mu, ya TUHAN, kutakuti! Hidupkanlah itu dalam lintasan tahun, nyatakanlah itu dalam lintasan tahun; dalam murka ingatlah akan kasih sayang!" Berdoa kepada TUHAN Allah merupakan cara pertama, terutama dan terpenting yang harus kita lakukan ketika kita ada dalam masa yang sukar. Di dalam doa kita minta kepada TUHAN Allah agar Dia datang dan campur tangan menolong kita. Doa bukanlah cara alternatif yang harus kita ambil karena sudah tidak ada pilihan lain lagi. Doa harus menjadi cara hidup kita sebagai umat TUHAN Allah. Doa harus menjadi jembatan bagi kita untuk melangkah memasuki hadirat TUHAN Allah. Doa harus menjadi cara kita untuk mendapatkan motivasi hidup dari Sang Pemilik Hidup. Sehingga di dalam masa yang sukar kita tidak menjadi lemah dan kehilangan gairah serta motivasi dalam hidup ini. 2. Fokus kepada TUHAN Allah dan bukan pada masalah Habakuk 3:17-18: "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku". Terkadang masa sukar membuat kita kehilangan fokus dalam hidup ini. Masa yang sukar sering menarik kita untuk menjauh dari TUHAN Allah. Masa yang sukar menyebabkan kita terfokus hanya kepada masalah. Dampaknya hidup kita menjadi kehilangan arah. Kita terpenjara di dalam masa yang sukar. Pada hal masa yang sukar itu biasa. Masa yang sukar bukanlah masa yang luar biasa. Masa yang sukar adalah masa yang biasa-biasa saja. Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Korintus berkaitan dengan masa yang sukar demikian: "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya" - 1 Krointus 10:13. Masa yang sukar adalah masa yang biasa. Masa yang sukar adalah masa yang tidak melebihi kekuatan kita. Masa yang sukar pasti ada di jalan kehidupan kita. Masa yang sukar diijinkan TUHAN Allah ada di jalan hidup kita. Masa yang sukar itu tidak lebih kuat dari kita. TUHAN Allah itu setia dan dalam kesetiaan-Nya, Dia tidak akan pernah membiarkan kita mengalami masa yang sukar melampaui kekuatan kita. Kalau masa sukar itu ada di jalan hidup kita, TUHAN Allah sendiri yang menjamin bahwa Dia pasti memberikan solusi yang kita butuhkan dalam masa yang sukar. Dengan demikian kita dapat menanggungnya. Hal-hal itulah yang kita peroleh ketika kita fokus kepada TUHAN Allah dan bukan fokus kepada masa yang sukar. Dengan fokus kepada TUHAN Allah kita mendapatkan kekuatan spiritual. Dengan fokus kepada TUHAN Allah kita mendapatkan kekuatan dan pencerahan. Dengan fokus kepada TUHAN Allah kita memperoleh motivasi rohani untuk tetap berpengharapan walau di masa sukar sekalipun. 3. Mengandalkan TUHAN Allah Habakuk 3:19: "ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku". Dalam masa yang sukar, kita tidak bisa mengandalkan harta kekayaan. Karena faktanya harta kekayaan pada masa yang sukar akan habis. Dalam masa yang sukar, kita tidak bisa mengandalkan manusia. Karena faktanya manusia juga terbatas. Dalam masa yang sukar, yang bisa kita harapkan dan andalkan ialah TUHAN Allah. Karena nabi Yeremia menulis demikian: "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah" - Yeremia 17:8-9. Dalam masa yang sukar, ketika kita mengandalkan TUHAN dan menaruh harapan kita kepada TUHAN, berkat TUHAN akan tercurah atas hidup kita. Ada beberapa keuntungan ketika kita mengandalkan TUHAN Allah pada masa yang sukar, yaitu: Pertama, "Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air", artinya kita dekat dengan sumber kehidupan. Kedua, "yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air", artinya memperoleh kehidupan dari sumber kehidupan. Ketiga, "tidak mengalami datangnya panas terik", artinya mengalami masa yang sukar tetapi masa yang sukar itu tidak akan menghancurkan iman kita. Keempat, "daunnya tetap hijau", artinya tetap segar/tidak layu dan ada kekuatan baru setiap hari. Kelima, "tidak berhenti menghasilkan buah", artinya selalu menghasilkan sesuatu yang baik, mendapat berkat dari TUHAN Allah dan menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Friday, March 15, 2013

Teguran Dan Pemulihan

Bilangan 12:1-16. Allah sungguh sangat mengasihi manusia tetapi Dia tidak pernah membiarkan dosa. Itulah sebabnya dalam Ibrani 12:6 berkata: "Karena TUHAN menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak". Dari kasih-Nya, Dia memperingatkan dengan berbagai cara dan termasuk di dalamnya adalah sebuah "hajaran" kepada setiap orang yang mulai menyimpang dari firman-Nya dengan satu tujuan agar kita dipulihkan. Tindakan Allah ini bertujuan agar setiap mereka yang dikasihi-Nya kembali kepada jalan-jalan Tuhan agar tidak mendapatkan hukuman tetapi pemulihan. Hal itulah yang terjadi dalam perikop kita di atas. Di mana Miryam mendapatkan teguran karena sikapnya yang iri kepada kepemimpinan Musa. Dia merasa memiliki kemampuan untuk bisa berbuat sesuatu sama seperti Musa. Itulah sebabnya dia coba mencari-cari kelemahan Musa dengan maksud menjatuhkannya. Hal ini tentu tidak disukai oleh Allah dan merupakan suatu pelanggaran di mata Tuhan yang membuat Dia murka. "Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia" - Bilangan 12:9. Pertanyaan penting untuk kita renungkan ialah: "Bagaimanakah cara Allah menegur kita untuk memulihkan kita? Berikut beberapa cara Allah menegur dan memulihkan kita. Pertama, Allah menegur dengan cara mengijinkan masalah terjadi. Karena sikap Miryam, Allah menegur dia dengan cara memberikan penyakit kusta kepadanya. "Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya bahwa dia kena kusta" - Bilangan 12:10. Penyakit kusta menjadi sarana yang dipakai Allah untuk menegur Miryam agar dia menyadari kesalahannya. Teguran Allah buat kita bisa berupa masalah seperti sakit penyakit agar kita sadar bahwa kita telah menyimpang. Memang tidak semua masalah akibat dari dosa, tetapi perlu kita mempertanyakan diri ketika mendapatkan masalah siapa tahu itu adalah karena kesalahan kita sendiri. Kalau memang bukan karena kesalahan kita berarti masalah itu untuk membuat kita bertumbuh. Namun, kalau itu karena kesalahan kita, jalan satu-satunya adalah bertobat. Tidak ada tanggapan lain selain bertobat kalau mau dipulihkan Allah. Jangan pernah mencari-cari alasan untuk membenarkan diri. Perlu sikap yang jujur untuk melihat diri kita di tengah-tengah masalah yang terjadi. Kalau memang kita sudah mulai menyimpang dari jalan Tuhan, maka bertobat adalah jalan yang terbaik. Kedua, Allah menegur dengan cara mengucilkan. Karena sikapnya, Miryam dikucilkan dari masyarakat di sekitarnya. "Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya" - Bilangan 12:15. Allah memberikan pembelajaran bagi Miryam agar dia menyadari bahwa perbuatan dosa akan membuat dia dipermalukan. Hal ini menjadi suatu peristiwa yang menyakitkan bagi Miryam karena dia menjadi orang yang tersisih dari masyarakat di sekitarnya dan membawa malu bagi dirinya sendiri. Dosa sering mengucilkan kita yang berakibat mempermalukan kita. Kondisi seperti itu menjadi sarana bagi Allah untuk menyadarkan kita agar kembali ke jalan-Nya. Jadi, kalau hari ini Anda merasa terkucilkan karena kesalahan Anda, jangan pernah memberontak, tetapi bertobatlah karena hanya lewat itu Anda bisa dipulihkan oleh Allah. Tidak kebetulan orang-orang yang dekat dengan Anda tiba-tiba menghindari Anda atau orang yang Anda harapkan semuanya menjauh karena itu menjadi bahan perenungan agar kita introspeksi diri kalau-kalau ada sesuatu yang kita telah perbuat yang telah melanggar firman Tuhan yang perlu harus kita bereskan. Dan kalau kita bersedia mendapatkan teguran ini, maka kita akan melihat bahwa Allah akan memulihkan hak-hak kita sebagaimana semestinya. "Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran" - Bilangan 12:16. Kita akan melanjutkan hidup dan tidak mustahil dengan pembelajaran atas teguran Allah ini, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih indah dari sebelumnya. Namun sebaliknya, kalau kita menganggap sepi teguran Allah ini, maka kita akan mendapatkan hidup yang lebih parah lagi. Oleh karena itu, tidak ada tanggapan yang lebih indah atas teguran Allah yang kita terima selain bertobat dan tidak memberontak. Pertobatan akan memulihkan hak-hak kita di dalam Tuhan. Karena memang Allah adalah Tuhan yang penuh dengan kasih di mana Dia tidak mau melihat kehancuran kita tetapi pertobatan kita. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita" - 1 Yohanes 1:9.

Thursday, March 14, 2013

Keuntungan Di Balik Kejujuran

Dari perspektif penciptaan, secara teologi manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah - Kejadian 1:26-27. Hal itu menegaskan bahwa manusia sempurna diciptakan oleh Allah. Karena manusia diciptakan sempurna, maka manusia memiliki karakter yang sempurna. Salah satu karakter manusia ialah KEJUJURAN/JUJUR. Tetapi, setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka karakter manusia menjadi rusak. Manusia menjadi lebih suka bohong dari pada hidup jujur. Mengapa demikian? Karena kalau hidup jujur sudah pasti tidak akan mendapat untung. Sebaliknya, kalau bohong mendapat untung. Inilah paradigma yang sudah terbangun secara umum dalam diri manusia, baik orang non Kristen maupun orang Kristen yang notabene adalah pengikut Kristus. Cara pandang yang menganggap bahwa berbohong itu untuk dari perspektif Alkitab tentu tidaklah benar. Menurut Alkitab, bohong itu dosa, sehingga sebenarnya berbohong itu tidak ada untungnya. Iblis telah memutar-balikkan fakta karena memang dia adalah bapa pendusta dari mulanya. Jadi, seharusnya kita memutuskan untuk mulai berhenti berbohong dan berkatalah jujur. Karena, kalau kita jujur dijamin pasti ada untungnya. Pertanyaannya ialah: "Apa untungnya kalau kita hidup jujur? Berikut beberapa keuntungan yang akan kita peroleh, bila kita hidup jujur. Pertama, Kejujuran mendatangkan ketenangan - Mazmur 32:10-11. Orang kalau bicaranya jujur dan hidupnya tulus, pasti mengalami ketenangan. Dan orang yang hidupnya tenang pasti lebih sehat, sehingga orang yang jujur kata Alkitab selalu bersorak-sorak. Kedua, Kejujuran membawa hidup yang lebih dekat dengan TUHAN Allah - Amsal 3:32. Orang jujur hidupnya dekat sama TUHAN Allah. Mengapa? Karena di dalam TUHAN Allah tidak ada yang dusta. Di dalam TUHAN Allah tidak ada kemunafikan. Dikatakan demikian karena Dia adalah Allah yang benar dan di dalam Dia tidak ada ketidak-benaran. Ketiga, Kejujuran mendatangkan berkat yang luar biasa - Yesaya 33:15-16. Orang jujur hidupnya dijamin oleh TUHAN Allah. Di mana ada kejujuran, maka TUHAN Allah akan memerintahkan berkat-berkat-Nya ke dalam perbendaharaan atau ke dalam lumbung-lumbung atau ke dalam pundi-pundi orang-orang jujur. Keempat, Kejujuran pada akhirnya pasti melihat kemenangan besar - Mazmur 140:14; Amsal 2:21-22. Ketika kita bicara jujur dan berjalan dalam ketulusan tentunya kita akan menemui tantangan, hambatan, kesulitan dan sebagainya. Untuk sementara jalan orang jujur berat dan lambat. Kadang kala jalan yang ditempuh oleh orang jujur untuk sementara penuh onak dan duri. Tetapi, hasil akhirnya TUHAN Allah mendatangkan kemenangan yang besar bagi orang-orang jujur. Marilah kita belajar untuk hidup jujur dan dalam ketulusan. Patut diakui bahwa untuk hidup jujur memang tidak gampang. Tetapi, di manapun orang jujur berada mujizat dan kemenangan dari TUHAN Allah menyertainya. Amin

Tuesday, March 12, 2013

Diberkati Untuk Menjadi Berkat

Kejadian 12:1-9 Pendahuluan Secara teologis, TUHAN Allah merupakan sumber, pemilik dan pemberi BERKAT kepada kita. Pemberian BERKAT oleh TUHAN Allah sebagai bukti kasih dan tanggung jawab serta PENGGENAPAN janji pemeliharaan-Nya yang sempurna bagi kita. Di sisi lain, pada kita bukan saja punya HAK untuk menikmati BERKAT pemberian TUHAN Allah. Tetapi juga, pada kita ada TANGGUNG JAWAB yaitu sebagai AGEN PENYALUR BERKAT bagi sesama. Pertanyaan yang patut diajukan ialah: “Prinsip apa yang harus ditumbuh-kembangkan dalam rangka untuk menjadi berkat?” Isi I. Jangan genggam erat berkat itu – Kejadian 12:1 “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu”. Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa ada orang-orang yang menggenggam terlalu erat berkat itu bagi diri mereka. Dan orang-orang yang hidup dengan cara demikian, akhir hidupnya sangat tragis.  Lukas 12:13-21 = orang kaya yang bodoh.  Kisah Para Rasul 5:1-11 = Ananias dan Safira  Abram tahu persis akibat negative dari menggenggam erat berkat itu. Karenanya, dia melepaskan genggamannya dari berkat, lalu dia melakukan beberapa hal:  Pergilah dari negerimu – bicara tentang wilayah kekuasaan.  Pergilah dari sanak saudaramu – bicara tentang relasi, hubungan, keintiman.  Pergilah dari rumah bapamu – bicara tentang warisan.  Abram meninggalkan semua itu dan mengikuti ekspansi ilahi.  Prinsip tersebut dipahami oleh Ayub, sehingga dalam kehilangan yang besar, Ayub mengatakan: “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil terpujilah nama TUHAN”. II. Jangan setengah hati – Kejadian 12:4 “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran”.  Dalam rangka untuk menjadi berkat, TUHAN Allah tidak menghendaki kita melakukannya dengan setengah hati.  Mengasihi dengan setengah hati, berdoa dengan setengah hati, memberi dengan setengah hati, dll. Hal semacam ini tidak layak menjadi berkat bagi orang lain.  Jangan menoleh ke belakang – Lukas 9:57-62.  Kadang-kadang masa lalu kita menjadi penghalang untuk menjadi berkat.  TUHAN Allah menuntut totalitas kita dalam rangka untuk menjadi berkat.  TUHAN Allah menuntut perhatian menyeluruh dan konsentrasi penuh dari Abram.  Untuk kepentingan Kerajaan Allah, kita harus total melakukan segala sesuatu. III. Jangan takut menanggung resiko – Kejadian 12:3 “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat”.  Cerita: seekor burung yang jatuh cinta kepada mawar putih.  Mencintai hingga terluka.  Dalam rangka untuk menjadi berkat, ada harga yang harus dibayar.  Di jalan menjadi berkat, tidak semua orang akan mendukung kita.  Akan ada orang-orang yang tidak senang ketika kita menjadi berkat.  Ada yang memberkati tetapi juga ada yang mengutuk.  Tapi TUHAN Allah adalah Pembela yang Agung. Dia pasti membela kita dari semua orang yang menentang jalan kita menjadi berkat. Penutup Pada waktu TUHAN Allah memberi BERKAT kepada kita, tentu Dia punya misi melalui kita. Misi-Nya ialah supaya kita menjadi alat BERKAT bagi sesama. Dan untuk menjadi alat BERKAT bagi sesama, maka sikap yang benar ialah: pertama, jangan genggam erat berkat itu; kedua, jangan setengah hati; ketiga, jangan takut menanggung resiko. Kiranya TUHAN Allah menolong kita untuk mewujudkannya. Amin

Friday, March 8, 2013

Yesus Membuat Perubahan

Yohanes 2:1-11. Dalam sepanjang perjalanan pelayanan Yesus yang dicatat dalam keempat Injil, kita menemukan bahwa di mana saja Ia hadir, selalu terjadi perubahan yang radikal. Dalam pembacaan kita dari Yohanes 2:1-11, ada tiga perubahan terjadi atas kehadiran Yesus dalam perkawinan di Kana. 1. Merubah Air Menjadi Anggur - ayat 1-3. Peristiwa ini merupakan awal dari semua mujizat yang Yesus lakukan sepanjang pelayanan-Nya. Dalam perkawinan di Kana ada masalah yang dialami oleh keluarga yang menyelenggarakan pesta tersebut. Dan masalah itu berkaitan dengan kehabisan persediaan anggur. Dan bila masalah ini tidak diselesaikan, maka keluarga sebagai penyelenggara perkawinan tersebut akan menaggung malu yang luar biasa. Dalam hidup kita juga, ada banyak masalah yang menimpa kita. Secara khusus dalam keluarga Kristen tidak sedikit masalah yang terjadi. Sering masalah-masalah yang tidak diselesaikan akan meninggalkan suatu kondisi yang menyakitkan. Khususnya hubungan suami-istri, hubungan orangtua dengan anak-anaknya dan hubungan-hubungan yang lain yang ikut dirusakan oleh masalah yang tidak diselesaikan. Tidak sedikit yang merasa malu akibat masalah-masalah itu. Yesus hadir untuk merubah masalah menjadi berkat. Seperti yang dilakukan-Nya pada perkawinan di Kana yang mengubah air menjadi anggur. Kita lihat betapa besar kepedulian Yesus terhadap masalah yang menimpa keluarga. Mengapa demikian? Karena di hati Yesus ada tempat untuk setiap keluarga dan Dia selalu bersedia memberi pertolongan ketika kita datang kepadanya. 2. Merubah Orang Berdosa Menjadi Anak-anak Allah Secara Rohani - ayat 11. Mujizat air menjadi anggur di dalam acara pesta di Kana, ingin menunjukkan beberapa hal, yaitu: Pertama, membuktikan kedaulatan Yesus Kristus atas alam ciptaan-Nya - Yohanes 1:3. Kedua, membuktikan kuasa Yesus untuk mengubah orang berdosa menjadi anak-anak Allah secara rohani - Yohanes 1:12. Ketiga, membuktikan bahwa Yesus adalah Terang yang menerangi kegelapan dosa - Yohanes 1:4-5.